Pekerjaan Setelah Lulus Sekolah


Permulaan

Sewaktu masih kelas 3 SMK, pihak BKK Sekolahan menyebarkan informasi kerja di Pabrik Perakitan Mobil. Aku tidak tertarik karena ada salah satu persyaratan yang tidak sesuai dengan kriteriaku. Tetapi entah kenapa aku akhirnya daftar, karena banyak teman kelasku yang daftar. Padahal secara kriteria ada yang kurang. Ternyata ada salah satu Guru yang menyarankan untuk mencoba, siapa tau memang rezeki. Karena mungkin ada beberapa alumni yang lolos walaupun ada sedikit kriteria yang tidak terpenuhi.

Tes Fisik

Akhirnya bebera minggu setelah daftar, pihak BKK Sekolahku mengumumkan akan diadakan tes fisik di luar kota tepatnya di Tuban. Aku masih ingat tes pertama yaitu lari mengelilingi suatu tempat. Lalu setelah selesai lari, ternyata tes tinggi Badan. Di situ akhirnya banyak yang tidak lolos termasuk aku. Tesnya sangat sederhana, hanya dengan melewati sebuah area yang ada talinya. Jika ujung kepala tidak menyentuh talinya dipastikan tidak lolos. Sebenarnya secara persyaratan aku sudah tau, minimal tinggi badan minimal 165cm, sementara tinggi badanku sekitar 163 cm.

“Aku tidak kecewa sama sekali karena memang dari awal tinggi badanku belum memenuhi kriteria.”

Tidak Lolos

Teman-temanku hanya sedikit yang lolos untuk tahap selanjutnya, tetapi lebih banyak yang tidak lolos termasuk aku. Setelah beberapa minggu kemudian pihak BKK mengumumkan lagi ada informasi kerja di Pabrik Perakitan Sepeda Motor. Beberapa hari kemudian aku mencoba menghubungi pihak BKK, ternyata namaku dan teman-temanku sudah di daftarkan. Dari pihak BKK berinisiatif yang kemaren gagal atau pun lolos di tawarkan kembali untuk mendaftar ke Pabrik tersebut.

Kembali Mencoba Yang Lain

Setelah data di setorkan ke pihak yang memberi informasi untuk proses validasi, dari BKK mengumumkan banyak yang lolos di tahap validasi dan lanjut ke tahap Psikotes. Psikotes dilaksanan di luar provinsi, tepatnya di kota Pati Jawa Tengah. Sebelum berangkat tes dari sekolahan memberikan pelatihan cara mengerjakan psikotes.

“Selama dua hari sebelum berangkat, ketika jam istirahat atau dirumah aku sering menggambar pohon dan tes Wartegg”

Psikotes

Akhirnya tiba waktu psikotes, pihak sekolah menyewa 2 bus untuk perjalanan ke Pati. Sesampai di tempatnya yaitu di sebuah Sekolahan SMK yang modern. Karena waktu tes siang hari dan bus sampai sekitar jam 9, aku dan teman-temanku berkeliling sekolah ini. Awalnya aku kagum dengan tempat praktik yang dimiliki sekolah ini. Fasilitas yang memadai, siswa yang disiplin, dan sudah menerapkan budaya pabrik. Dan yang membuatku heran, harga makanan di kantin nya sangatnya murah meriah.

Selama Psikotes aku tidak mengalami kesulitan apapun, hanya saja aku sedikit melakukan kesalahan pada sesi tes kraepelin. Mungkin karna tidak fokus aku melewati satu kolom, yang akhirnya aku harus tetap mengisinya. Karena terlewat satu kolom, aku sedikit terlambat ke tes berikutnya, tetapi pada akhirnya aku bisa menyelesaikan semua tes nya.

“Aku ingat waktu itu test di laksanakan di gedung aula paling depan dan berdekatan dengan jalan raya. Aku kehilangan fokus karena mendengar suara Telolet Bus yang cukup keras.”

Tes Wawancara

Setelah beberapa bulan dari tanggal Psikotes, pihak BKK mengumumkan yang lolos dan jadwal wawancara. Ternyata namaku tertulis di daftar yang lolos ke tahap wawancara. Aku sangat bersyukur bisa lolos mengingat ketika tes aku melakukan kesalahan tetapi masih beruntung. Kali ini hanya 1 bus yang berangkat ke Pati untuk tes wawancara. Ketika sedang menunggu giliran untuk dipanggil, aku melihat entah temanku atau anak dari sekolah lain, selama di dalam ada yang lama ada juga yang cepat. Untungnya ketika giliranku hanya di tanya tentang keseharianku dirumah dan disekolah.

“Pertanyaan wawancara biasanya berkaitan dengan jawaban yang sebelumnya, jadi aku hanya menjawab sesuai apa yang aku ketahui saat itu.”

Medical Check Up

Beberapa bulan kemudian dari tanggal tes wawancara, ternyata aku lolos untuk lanjut ke tahap kesehatan (Medical Check Up). Ternyata dari hasil wawancara banyak teman-temanku yang tidak lolos. Karena yang lolos tidak terlalu banyak tentu sekolah hanya menyewa ELF untuk berangkat tes kesehatan.

Untuk mempersiapkan tes kesehatan, pihak BKK berangkat 1 hari sebelum hari tes. Jadi kami semua berangkat di sore hari dan menginap di tempat penginapan yang sederhana. Setelah pagi tiba, kami semua berangkat ke sekolahan tesebut untuk tes kesehatan, berharap selesai awal dan pulang cepat. Tetapi waktu pengumpulan dokumen ternyata SIM ku ketinggalan. Jadi aku harus menghubungi saudaraku yang ada dirumah untuk bisa di foto dan di kirimkan. Salah satu temanku yang masih belum mengumpulkan dokumennya karena memang sengaja menunggu aku mengumpulkan. Gara-gara itu aku jadi terlambat mengumpulkan dokumen, akibatnya namaku dan temanku di di panggil lumayan lama.

“Aku harus menahan kencing selama kurang lebih 2 Jam karena namaku di panggil cukup lama.”

Selama tes kesehatan semua berjalan lancar, dan hasilnya dari rombongan sekolahku itu lolos semua. Akhirnya sejak saat itu hanya tinggal menuggu tahap selanjutnya yaitu training dan tanda tangan kontrak. Aku melanjutkan hari-hariku seperti biasa, belajar untuk menghadai try out dan ujian nasional. Aku lebih sering mengerjakan soal matematika dari pada yang lain.

“Aku bersyukur bisa sampai di tahap ini, karena ketika sudah lolos dari Medical Check Up biasanya langsung training kemudian kerja.”

Pertama Kali Merantau

Setelah menunggu beberapa bulan dan lulus akhirnya pihak sekolah memberangkatkan kami semua ke Cikarang, Jawa Barat. Ini adalah pertama kali aku keluar kota yang jauh, tentu aku belum memiliki pengalaman apapun. Kami berangkat dari Bojonegoro siang hari dan sampai di Cikarang sekitar jam 1 malam. Sampai tiba disana aku dan teman-temanku dapat kamar kos yang lumayan jauh dari teman-teman lainnya. Kamar yang berukuran 3x4 di huni sekitar 7 orang termasuk aku. Tidak ada kipas angin ataupun kasur.

Jarak dari kosku ke pabrik sangat jauh, tetapi ada jalan pintas yang bisa lebih cepat. Tetapi ada sedikit tantangan ketika lewat jalan pintas di pagi hari, karena jalan pintasnya melewati rumah warga yang memiliki peliharaan anjing. Karena ketika masa training aku dan teman-temanku harus berangkat sebelum subuh biar bisa sholat subuh di Masjid Pabrik. Ada satu kejadian yang masih aku ingat, dimana ketika sedang berjalan tiba-tiba di kejar anjing. Salah satu temanku sampai terpeleset ke jurang. Setelah masa training selesai, kami semua di suruh untuk datang ke Kantor Pusat di Jakarta untuk informasi tanda tangan kontrak.

Tetapi hasil informasi ternyata hanya beberapa yang bisa langsung kerja, dan aku harus menugggu bulan depan. Aku dan teman-temanku yang masih di pending memutuskan pulang dan kembali lagi ke Jakarta sesuai tanggal yang di informasikan.

“Ketika aku sampai di Kota Jakarta pertama kali, aku terkesan melihat busway tidak pernah aku lihat di kotaku,“

Kembali Ke Jakarta

Setelah tiba waktunya aku dan teman-temanku yang pulang kembali ke Jakarta naik Kereta Api. Sesampainya di Jakarta kami harus mencari kos untuk menginap beberapa hari. Akhirnya dapat kos yang dekat dengan Pabrik Pusat, tepatnya di depan persis hanya saja harus menyebrangi jembatan sungai dan jembatan penyebrangan. Hari-hari berlalu sampai akhirnya kami semua sudah tanda tantangan kontrak. Ternyata aku dan beberapa temanku di tempatkan di Jakarta, yang lainnya di Cikarang.

Mencari Tempat Yang Nyaman

Aku dan teman-temanku yang akan kerja di Jakarta memutuskan mencari kos yang lebih bagus, karena kos yang sekarang memang murah, tetapi kurang nyaman dan air sumur nya terasa asin ketika di pakai kumur. Setelah dapat kos yang baru di sebuah rumah hanya dengan satu kamar, yang dihuni 6 orang termasuk aku. Saat itu per orang bayar 300 ribu per bulan. Karena itu pertama kali aku dan teman-temanku merantau ke Jakarta, jadi dari kami tidak ada yang mempermasalahkannya. Karena tempatnya juga bersih dan air nya tidak terasa asin ketika digunakan berkumur.

Aku dan 5 temanku cukup betah di tempat ini, hanya saja pejaga kos nya yang jadi masalah yang membuat kami semua mencari kos baru. Tentu perjalanan mencari kos tidak mudah, karena kami 6 orang. Tentu kami ingin tetap berkumpul dengan mencari 2 - 3 kamar kosong tetapi jaraknya dekat. Beberapa bulan dapat info rumah kontrakan kemudian kami semua memutuskan mengontrak rumah tersebut karena kami ingin tetap bersama-sama. Aku masih ingat betul sewanya sekitar 9 juta dalam 6 bulan dan belum termasuk biaya air dan listrik. Aku tidak tau apakah angka segitu termasuk mahal di tahun 2018-2020, kamarnya sangat sangat kecil tetapi panjang. Karena cuma berisi dua kamar tentu setiap kamar di isi dengan 3 orang. Sebenarnya lebar kamar tesebut cuma 1.5 meter. Jadi ketika tidur kami tidak pernah bisa dengan kaki yang lurus. Aku dan teman-temanku sebenarnya ingin pindah namun beberapa pilihan tempatnya jauh dari tempat bekerja. Akhirnya kami semua bertahan di tempat itu selama 18 bulan. Aku hanya berfikir yang penting berkumpul dengan teman-temanku. Hiburan kami saat itu hanya ada TV dan PS2.

Kontrak Kerja Habis

Ketika satu per satu dari kami habis kontrak, satu persatu pulang ke kampung halaman. Dari 6 orang termasuk aku, 2 orang yang beruntung yaitu aku dan temanku. Setelah pulang sekitar satu minggu dapat informasi panggilan kerja ke Pabrik itu. Teman-temanku yang tidak mendapat tawaran lagi, tentu sedang sibuk mencari kerja di tempat lain, ada juga yang memutuskan untuk kuliah.

Tempat Kerja Baru

Di tempat yang kedua ini aku sendirian karena tidak ada yang aku kenal, ketika masa training sampai selesai kemudian tanda-tangan kontrak dan ternyata aku pindahkan ke tempat lain yaitu Pegangsaan Jakarta Utara. Ketika aku sudah penempatan kerjaku, aku menghubungi beberapa teman kelasku yang dulu pernah kerja di tempat tesebut. Beberapa teman menghubungi temannya yang masih kerja disini sampai akhirnya aku dapat tumpangan. Aku bersyukur ada yang mau membantuku padahal orang yang memberi tumpangan tentu tidak kenal dengan ku sama sekali, tentu semua itu berkat teman kelasku.

Aku hanya menginap untuk semalam karena memang besok pagi sudah mulai masuk kerja. Kemudian Sepulang kerja aku dibantu mencari kos-kosan oleh orang lain yang pasti teman dari teman kelasku. Aku cuma berfikir yang penting dapat tempat tidur, karena memang aku tidak punya kenalan di daerah tesebut.

Jarak dari Kos ke tempat kerja cukup jauh, jadi setiap hari aku berangkat naik ojek online. Keadaan itu berjalan sekitar dua bulan. Teman-teman kerjaku di sana rata-rata naik sepeda fixie, kemudian aku tertarik beli sepeda fixie yang murah sekitaar 600 ribu karena memang barang bekas. Pikirku yang penting bisa sampai ke tempat kerja dan ketika di pakai kemana-mana tidak takut kalau hilang karena tidak menarik.

“Dulu aku berharap tidak pindah dari tempat yang pertama karena aku punya Teman-teman yang masih ada di sana.”

Lingkungan Kos Yang Baru

Aku suka di lingkungan kos-kosan yang baru, karena jarak ke Mushola sangat dekat, aku juga tidak pernah ada masalah ketika ngekos di tempat tersebut. Di waktu covid 2020 semua penghuni kos pulang kampung, hanya tersisa aku sendiri. Kebetulan kamarku paling belakang dan dilantai 2. Kondisi itu berjalan berbulan-bulan, aku tidak ingat berapa bulan tepatnya. Hampir setiap hari aku hidup dirumah sendirian, karena rumah pemilik Kos disebelahnya. Kebetulan kos-kosan yang aku tempati berada di dalam komplek jadi sangat jarang terdengar suara motor atau mobil, karena jalan di depan kos-kosan pintu-masuk nya di tutup, jadi hanya bisa lewat pintu utama yang lumayan jauh.

Mungkin suara motor atau mobil hanya orang-orang yang tinggal disekitar tempat itu. Lingkungan di depan kos-kosanku hanya ramai ketika pagi dan sore karena ada sekolahan tepat di depan rumah kos-kosanku.

Karena Covid

Pandemi Covid memaksa semua orang menggunaka masker untuk syarat berpergian kemanapun. Bahkan diwajibkan juga suntik vaksin dengan alasan ketika terpapar virus covid tidak menimbulkan efek yang fatal. Selama di tempat kerja yang baru aku ngekos sendirian, jadi sepulang kerja aku hanya bermain hp, baca quran kadang ikut majelis ta’lim di Masjid.

Hal yang paling konyol yang saat itu aku alami adalah beberapa Masjid tidak dibuka untuk beribadah dan Dilarang Sholat Jum’at. Tentu beberapa orang pasti menolak keputusan ini. Bagiku tidak afdol karena beberapa tempat lainnya masih di perbolehkan, sementara sholat harus dilakukan durumah masing-masing. Untungnya masjid dan mushola di sekitar kos ku masih terbuka dan melaksanakan sholat berjamaah seperti biasa, hanya saja musti memakai masker.

Tetapi efek pandemi covid aku juga beruntung, karena aku punya waktu libur sekitar 2 bulan. Selama 2 bulan aku pulang ke Bojonegoro naik kereta api. Selama naik kereta api itu adalah pengalaman yang paling unik, karena harus jaga jarak demi mencegah penyebaran virus covid, setiap 2 kursi hanya di isi 1 orang. Jadi satu gerbong kereta itu hanya sedikit sekali penumpanngya.

Tags:


Keep reading

Hasan Dari Bashrah

Hasan bin Abil Hasan al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21 H/642 M

Berpetualang Menemukan Neovim

Berpetualang Menemukan Neovim

Kenapa Menggunakan Linux?

Alasanku Kenapa Menggunakan Linux

Karena Pandemi Covid 19

Beberapa pola hidup sehat yang aku pelajari dan terapkan ketika Pandemi.