Tembakau Sebagai Anti Kanker
Tahun 2014 ada berita yang cukup menghebohkan dunia kesehatan Indonesia. Mengapa tidak, saat ada pengakuan seorang guru besar farmasi, Profesor Sutiman. Profesor Sutiman adalah guru besar dari sebuah Universitas Negeri ternama di Jawa Timur. Beliau mengakui jika istrinya sembuh dari penyakit kanker lewat metoda asap rokok.
Selain itu juga ada pengakuan ketua IDI Malang, Dokter Subagyo, yang sembuh dari kanker kelenjar getah bening juga dengan tembakau. Padahal beliau adalah seorang ahli bedah jantung! Atas dasar itu mereka berani menjadi saksi yang menolak perlakuan undang-undang pembatasan tembakau. Dengan pembatasan tersebut bisa jadi rokok akan jadi produk dengan peredaran terbatas sebagai mana halnya minuman keras.
Pengakuan kedua ahli tersebut, menjalani terapi dengan tembakau berdasarkan temuan dr Greta Zahar. Dr Greta Zahar menemukan metode tersebut tanpa sengaja ketika berada di dapur. Dalam pernyataannya metode tersebut merupakan tehnik detoks.
Pada saat itu tentu saja istilah autofagi belum sepopuler sekarang. Meski sayangnya popularitas ini malah sedikit mengaburkan pengertian autofagi sesungguhnya. Autofagi memperoleh popularitasnya kembali tahun 2016 setelah komisi Nobel memberikan penghargaan pada Ohsumi. Hadiah ini diberikan atas pembuktian mekanisme autofagi pada sel ragi.
Kembali pada tembakau, dalam penjelasannya Dr. Greta Zahar menyebutkan dengan metode ini terjadi detoksifikasi merkuri, yang selama ini dianggap pemicu kanker. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya ekskresi mercuri di air seni setelah pemberian terapi ini.
Proses terapinya disebut balur nano. Partikel tembakau dihancurkan hingga ukuran nano meter lalu dibalurkan pada bagian yang sakit, selain dihisap sebagai rokok. Dengan cara ini telah banyak testimoni kesembuhan. Hal ini mendorong Profesor Sutiman dan Dokter Subagyo mendirikan klinik berdasarkan metode ini.
Sayangnya metode ini belum mendapat pengakuan luas akibat kontroversi sekitar tembakau. Selama ini tembakau tetap dicap sebagai penyebab dari berbagai penyakit yang berbahaya, diantaranya kanker paru-paru. Sedangkan temuan Dokter Greta Zahar justru menunjukkan sebaliknya. Berbagai penyakit jenis kanker sembuh dengan terapi ini.
Ini memberikan harapan baru bagi penderita kanker. Penggunaan kemoterapi dan berbagai terapi lain memberikan efek samping yang tidak sedikit. Sementara dengan tembakau efek sampingnya jauh lebih ringan.
Sayangnya secara pembuktian in-vitro, ternyata efek anti kankernya tidak terbukti. Hal ini mengakibatkan temuan dokter Greta Zohar belum mendapat pengakuan secara luas. Inilah kesalahan penjelasan dokter Greta Zohar. Seharusnya beliau memahami proses autofagi.
Lalu apa hubungannya mekanisme autofagi dengan kegagalan in-vitro dokter Greta Zohar? Karena mengabaikan proses autofagi. Mekanisme autofagi yang terpicu akibat pemberian nikotin
Nikotin termasuk golongan kolin yang merangsang pembuatan dan pelepasan asetilkolin. Asetilkolin bertanggung jawab atas proses berfikir pada manusia. Tak heran jika yang mengaku proses berfikirnya lebih baik setelah menghisap tembakau. Termasuk Alfred Einstein!
Selain merangsang pembentukan dan pelepasan asetilkolin, nikotin juga merangsang pelepasan dopamin dan GABA. Hal ini yang menimbulkan sensasi relaksasi dan mencegah relaksasi berlangsung lama.
Selanjutnya dopamin akan dirubah menjadi norepinefri yang mempengaruhi berbagai organ. Salah satunya, adalah pankreas. Di pankreas, norepinefrin merangsang pelepasan glukagon. Selanjutnya norepinefrin akan berubah menjadi epinefrin. Epinefrin juga memilikj efek yang luas, terutama pada otot polos. Di otot polos pembuluh darah epinefrin mengakibatkan vasokontriksi atau penyempitan pembuluh darah. Efek ini sering dimanfaatkan untuk mengatasi syok. Di saluran nafas dapat mengakibatkan bronkorelaksasi. Efek ini sering dimanfaatkan pada anak yang mengalami sesak. Terapinya disebut stoom adrenalin. Adrenalin = epinefrin.
Mekanisme ini telah banyak dipelajari dan diakui sebagai efek nikotin di dalam tubuh. Sayangnya efek ini justru diabaikan oleh Dokter Greta Zohar dalam menjelaskan efek anti kanker oleh tembakau. Beliau malah mengikuti tuntutan memperlihatkan efek in-vitro nikotin terhadap sel kanker. Sampai kapanpun tidak akan terbukti. Efek anti kanker tembakau bukanlah efek langsung nikotin pada sel kanker. Itulah liciknya orang yang membantah temuan antikanker tembakau.
Efek anti kanker tembakau berkaitan dengan mekanisme autofagi. Glukagon sebagai hormon yang berperan penting dilepaskan saat dopamin diubah menjadi norepinefrin. Glukagon mempengaruhi lisosom dan peroksisom yang ada di seluruh sel kecuali eritrosit dan sel keratin.
Itulah sebabnya mengapa perokok kurus. Karena terjadi pemecahan lemak oleh peroksisom yang dipengaruhi hormon glukagon. Selain pemecahan lemak, banyak sekali berbagai zat beracun yang tertimbun juga ikut dipecah dan dibuang. Itulah sebabnya mengapa mercuri yang dituding sebagai penyebab kanker ditemukan tinggi di dalam urin setelah pemberian tembakau. Selama ini diketahui semua zat beracun dan radikal bebas tertimbun di jaringan lemak.
Glukagon tidak hanya mempengaruhi peroksisom tapi juga lisosom. Lisosom ini yang akan aktif mendaur ulang organel sel yang rusak termasuk plasmid. Plasmid yang sudah tidak diperlukan juga akan dicerna oleh lisosom.
Dalam hipotesa terbaru, sel kanker diduga berasal dari pemberontakan plasmid. Plasmid yang hendak dibuang oleh sel akibat sudah tidak dibutuhkan lagi. Plasmid merupakan kode genetik ekstra kromosomal yang dibentuk tubuh untuk merespon setiap perubahan lingkungan.
Dengan memahami efek nikotin pada pelepasan glukagon maka dapat dipahami mengapa pada percobaan in-vitro nikotin tidak berefek pada sel kanker. Efek tidak langsung nikotin pada sel kanker membuka peluang bahan lain sebagai anti kanker yang lebih murah, lebih mudah dan lebih kecil resiko efek sampingnya terhadap tubuh. Yang penting bagaimana bahan tersebut dapat memicu mekanisme autofagi. Masih ragu mengobati kanker dengan tembakau? Jangan, lanjutkan!
Salam semoga menjadi inspirasi hidup sehat.
Ditulis oleh: dr. Dikdik Kodarusman
Referensi: Tembakau Sebagai Anti Kanker
Rangkuman
Berikut adalah rekap poin-poin penting dari artikel di atas:
- Pengakuan Ahli Kesehatan: Profesor Sutiman dan Dr. Subagyo mengklaim bahwa mereka sembuh dari kanker melalui metode yang melibatkan tembakau, yang menimbulkan kontroversi di dunia kesehatan.
- Metode Terapi Tembakau: Dr. Greta Zahar menemukan metode terapi menggunakan tembakau yang disebut “balur nano”, di mana partikel tembakau dihancurkan hingga ukuran nano dan diterapkan pada bagian yang sakit.
- Detoksifikasi: Metode ini diklaim dapat mendetoksifikasi merkuri, yang dianggap sebagai pemicu kanker, dengan meningkatkan ekskresi merkuri dalam urin.
- Autofagi: Meskipun istilah autofagi belum populer saat itu, mekanisme ini menjadi penting dalam menjelaskan bagaimana nikotin dapat memicu proses detoksifikasi dan penguraian zat beracun dalam tubuh.
- Efek Nikotin: Nikotin merangsang pelepasan asetilkolin, dopamin, dan norepinefrin, yang berkontribusi pada berbagai efek fisiologis, termasuk relaksasi dan pengaruh pada pankreas.
- Kegagalan In-Vitro: Penelitian in-vitro tidak menunjukkan efek anti-kanker dari nikotin, yang disebabkan oleh pemahaman yang kurang tepat mengenai mekanisme autofagi.
- Peran Glukagon: Glukagon, yang dilepaskan sebagai respons terhadap dopamin, berperan dalam memecah lemak dan zat beracun, serta mendaur ulang organel sel yang rusak.
- Hipotesis Sel Kanker: Sel kanker diduga berasal dari plasmid yang tidak dibutuhkan lagi, dan pemahaman tentang mekanisme autofagi dapat membuka peluang untuk menemukan bahan anti-kanker yang lebih efektif dan aman.
- Kontroversi Tembakau: Meskipun ada testimoni kesembuhan, metode ini belum mendapat pengakuan luas karena stigma negatif terhadap tembakau sebagai penyebab penyakit.
- Harapan Baru untuk Penderita Kanker: Metode ini memberikan harapan baru bagi penderita kanker, terutama karena efek samping dari kemoterapi dan terapi lain yang lebih berat.
Artikel ini menyoroti pentingnya pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme biologis dan potensi terapi alternatif dalam pengobatan kanker.
Tags: